Friday, May 6, 2011

MAKALAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (PESANTREN, MADRASAH DAN SEKOLAH SEJAK ZAMAN KOLONIALISMEI - REFORMASI) Oleh : Drs.Sadiran MPdI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) 2010 KATA PENGANTAR Sejak abad ke 16, Pesantren telah mampu bertahan dan berkembang dengan sikap kemandirian dan tardisinya yang luntur dalam menghadapi perubahan. Bahkan dalam sejarahnya Pesantren, Madrasah telah mampu mengarungi banyak tantangan mulai sejak zaman Kolonial Belanda, Jepang dan sampai sekarang. Keeksistensian Pesantren dan Madrasah terus berlanjut dari masa ke masa pada era penjajahan sampai era globalisasi, menurut catatan sejarah banyak kiyai yang berasal dari pesantren memimpin perjuangan nasional, melahirkan tokoh-tokoh agama yang pada akhirnya memberikan kontribusinya mengantarkan bangsa Indonesia merdeka bebas dari tekanan dan penindasan kolonialisme Belanda dan Jepang. Seiring dengan terus berkembangnya berbagai fenomena pendidikan dewasa ini sebagai akibat globalisasi yang kian merambah berbagai dimensi kehidupan manusia, kehadiran Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam diharapkan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan tersebut. Dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan agama dan kewarganegaraan diajarkan di semua lembaga pendidikan . Hal ini pendidikan agama merupakan salah satu muatan wajib dalam kurikulum pendidikan. Secara kuantitas dan kualitas Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia terus berbenah diri terhadap berbagai persoalan yang cukup sulit dan rumit menghadapi era globalisasi ini, apalagi digulirkannya Link and Match dan interkoneksi antara ilmu agama da umum yang kini menjadi isu sentral Pendidikan Nasional, yang esensinya pendidikan Islam merupakan bagian sub Sistem Pendidikan Nasional. Kata kunci : Pesantren, Madrasah dan Sekolah. A. Rumusan Masalah Dari pemaparan latar belakang di atas dapat ditarik beberapa terdapat problem yang amat krusial yang harus di carikan solusinya yaitu : 1. Bagaimanakah model lembaga pendidikan Islam di zaman kolonialisme Belanda dan Jepang? 2. Bagaimana respon dan tantangan Pesantren, Madrasah dan pendidikan Islam terhadap modernitas? 3. Bagaimana perkembagan ekonomi, social politik dan kontinutasnya? 4. Bagaimana strategi dan rekonstruksi Pesantren, Madrasah terhadap peningkatan kualitas pendidikan islam di era globalisasi? A. Tujuan Penulisan Tujuan penelitian/ penulisan makalah ini ialah untuk : 1. Mengetahui model pendidikan islam di zaman kolonialisme Belanda dan Jepang. 2. Mengetahui respon dan tantangan Pesantren, Madrasah dan pendidikan Islam terhadap modernitas. 3. Mengetahui perkembangan ekonomi, social politik dan kontinutasnya 4. Mengetahui strategi dan rekonstruksi lembaga pendidikan Islam, Pesantren, Madrasah dalam peningkatan kualitas dan dapat bersaing di era globalisasi. B. Telaah Pustaka Karel A. Steenbrink dalam penelitiannya pada 1986 di Indonesia tentang Pesantren, Madrasah dan Sekolah, ia mengatakan bahwa budaya-budaya yang ada pada pesantren terdahulu seperti mengkaji kitab-kitab. Ceramah di lakukan juga kaum Protestan di Eropa. Ekspansi keagamaan Katolik sama dengan ekspansi keagamaan Islam tradisional yang ada di Indonesia. Karel A. Steenbrink adalah seorang peneliti beragama Katolik ia tertarik memilih judul tentang perkembangan kehidupan Pesantren , karena kehidupan Pesantren mempunyai lingkungan khas, tersendiri dimana Pesantren juga bukan terlihat suatu studi modern mengenai islam di Indonesia. Selain fokus penelitiannya tersebut di atas, dia juga dekat dengan islam (ormas) islam seperti Muhammadiyah, Persis bahkan dia juga sebagai dosen Pasca di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam Penelitiannya ia sempat mengamati beberapa Pondok Pesantren yang ada di Indonesia mulai dari Sumatera sampai Jawa, bahkan dia sempat mondok beberapa bulan di sebuah Pondok yang ternama yaitu Gontor Darus Salam, dimana Pondok ini sudah mulai nampak kehidupan modern di dalamnya. Sehubungan perjalanannya dari beberapa Pesantren yang ada di Indonesia dia berkesimpulan bahwa: perubahan bentuk dan isi pendidikan Islam di Indonesia tidak terlepas dari tuntutan perkembangan zaman yang dihadapinya. Namun proses perubahan yang dihadapinya tidak begitu muda dan lancar tanpa perselisihan pendapat dari dalam dan keterlibatan kolonial juga menentukan perubahan dari tradisional ke arah lebih modern. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rofangi pada tahun 2001 M tentang “Budaya Santri Urban dalam Menghadapi tantangan Modernitas (Studi Kasus di Pesantren Krapyak Yogyakarta)” yang dimuat dalam jurnal Penelitian Agama Pusat Penelitian UIN Sunan Kalijaga. Dimana ia memfokuskan penelitiannya tentang fenomena budaya santri urban dalam mempertahankan tradisi islam tradisional di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam penelitian ini ia memakai metode penelitian sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan mampu menembus rahasia dari nilai-nilai kehidupan santri urban di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam penelitiannya tersebut dia mengambil beberapa kesimpulan diantaranya dalam menghadapi tuntutan modernitas “santri urban” di Pesantren Krapyak menghadapinya dengan berpegang pada prinsip “al muhafa zhatu `ala al qadimah al shalih wa al akhdzu bi al jadidi al asholeh” (melestarikan nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Fenomena yang ditunjukkan oleh santri urban ini melakukan resistensi budaya sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai lama yang positif dan sekaligus transformasi budaya sebagai langkah akomodatif (culture accomndation) terhadap modernitas. Dalam konteks lain Hasbi Indra dalam penelitiannya tentang Tantangan Pesantren dan Transformasi Sosial Studi atas pemikiran K.H.Abdullah Syafi'i dalam Bidang Pendidikan Islam, dalam penelitiannya ia mengangkat beberapa masalah pokok diantaranya pemikiran K.H.Abdullah Syafi'i dalam bidang pendidikan tersebut masih relevan untuk diterapkan sekarang? tujuan utama penelitian ini adalah menemukan bentuk pemikiran pendidikan K.H.Abdullah Syafi'i dan praksisnya dalam konteks pesantren yang didirikan di metropolitan Jakarta. Dari penelitiannya tersebut ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil diantaranya; pemikiran Abdullah Syafi'i tentang pendidikan pesantrennya bercorak khalaf dimana bukan saja menyangkut aspek emosional beragama tetapi juga menyangkut intelektualitas dan keahlian atau skill, seperti yang tampak dan jelas tujuan operasional Pesantren yang dirumuskannya ternyata pemikiran beliau masih relevan dengan zaman sekarang. Selain itu Martin Van Bruinessen dalam kita kuning membahas hal tentang perkmbangan pondok Pesantren pendidkan Islam Indonesia termasuk kurikulum dan perkembangannya yang banyak di pengaruhi oleh faham-faham tarikat yang dibawa oleh orang-orang Islam dari Arab. Sementara itu mengenai perkembangan pendidikan Islam kedapan dibahas dalm buku Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia yang intinya mengadakan perubahan peningkata kualitas guru dan lembaga pendidkan disamping itu meningkatkan kapasitas kelembagaan untuk program pengembangan masyarakat, pengkajian Islam antar bidang pengetahuan dan pengarutan jender . C. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini dilakukan dengan melalui pendekatan sejarah yaitu membaca Buku Pesantren Madrasah dan sekolah oleh Stenbrink, Kitab Kuning oleh Martin, Paradigma Baru Pendidikan oleh Kusmana dan Muslimin dan mengkaji data-data atau buku-buku penelitian agama, buku Sejarah Pendidikan Islam yang relevan dan ada kaitannya dengan makalah ini. D. Ruang Lingkup Pembahasan Ruang lingkup pembahasan makalah perlu dibatasi sehingga jelas dan tepat sasaran yang dibahas sesuai dan tidak meluas ke berbagai aspek. Penulis memberikan ruang lingkup yang akan dibahas adalah seputar perkembangan lembaga pendidikan islam pesantren, madrasah dan sekolah sejak zaman kolonial Belanda, Jepang sampai sekarang, ekonomi sosial politik dan kontinuitasnya termasuk respon dan tantangan modernitas yang dihadapi lembaga tersebut serta bagaimana peningkatan kualitasnya. E. Pembahasan 1. Historitas Pesantren Dalam perjalanan sejarahnya Pesantren telah menjadi obyek para Sarjana Barat yang mempelajari Islam. Pesantren secara etimologi yang berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an, berarti tempat tinggal para santri. Sedangkan Pondok mungkin juga berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel. Sedangkan menurut Karel A.Steenbrink istilah Pesantren bukanlah berasal dari istilah Arab, melainkan datang dari India, begitu juga istilah Pondok, Langgar di Jawa, Surau di Minangkabau dan Rangkang di Aceh bukanlah merupakan istilah Arab tetapi dari istilah yang terdapat di India. Selain dari itu istilah santri juga dikatakan berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru ngaji dan ada juga yang mengatakan bahwa santri mempunyai arti orang yang tahu buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Jadi pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India sebelum datangnya Islam. Hal ini sangat berpengaruh pada masyarakat Indonesia dan pengajaran dan kurikulum di Pesantren banyak diwarnai ajaran tradisi non Islam. Tentang kehadiran Pesantren secara jelas di Indonesia pertama kalinya dimana dan siapa pendirinya tidak dapat diperoleh keterangan secara pasti, berdasarkan hasil pendataan oleh Departemen Agama pada tahun 1984-1985 dan yang diperoleh keterangan bahwa Pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 di Pamekasan Madura dengan nama Pesantren Jan Tampes II. Keterangan ini agak meragukan karena tentunya ada Pesantren Jan Tampes I yang lebih tua. Setelah Islam masuk di Indonesia melalui jalur-jalur perdagangan oleh orang-orang Islam India. Setelah sampai di Indonesia penyebarannya dilakukan oleh para wali yang 9 (sanga) yang akhirnya melahirkan pendidikan individual yang tradisional dan terus berkembang menjadi Pesantren seperti sekarang ini. 2. Historitas Madrasah dan Sekolah Madrasah adalah salah satu jenis lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia, tetapi sebelum muncul dan berkembangnya Madrasah sudah berkembang pada abad ke 11 khususnya di wilayah Baghdad, sedang di Indonesia nanti pada awal abad ke 20. Madrasah ini didirikan di Padang Panjang oleh Zainuddin Labay pada tanggal 10 Oktober 1915. Di dalam pengajarannya dia menggabungkan antara pelajaran umum dan pelajaran agama. Melihat perkembangan pesantren yang hanya memberikan pengajaran agama saja. Sedang pemerintah Belanda tidak menginginkan adanya dikotomi ilmu, maka mulailah muncul dari para tokoh-tokoh Islam untuk merubah lembaga pendidikannya dengan menggabungkan antara ilmu agama dan umum. Kelahiran Madrasah di Indonesia di pengaruhi oleh dua faktor yaitu : Pertama faktor internal yang meliputi ajaran Islam dan kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Kedua faktor eksternal adalah menyangkut masalah kondisi pendidikan modern Kolonial di Indonesia. Adanya perubahan zaman yang semakin modern yang mengantarkan adanya perpaduan pendidikan Islam yang menumbuhkan semangat membentuk tradisi intelektualitas yang tidak terlepas dari karakter-karakter budaya masing-masing. Islam berkombinasi dengan budaya-budaya yang ada sering disebut Islam sinkretis. Islam sinkretis berkembang di Indonesia kemudian berinteraksi dengan budaya-budaya lain termasuk budaya Barat, Madrasah adalah salah satu hasil dari bentuk perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Barat. Di lain hal juga diketahui bahwa Madrasah yang pertama didirikan di Indonesia adalah Madrasah Adabiyah di Padang Sumatera Barat oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. dan pada tahun 1915 berubah menjadi (Holand Inland School) Adabiyah : HIS dan merupakan sekolah yang pertama memasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulumnya. Sedangkan menurut Muhaimin Abdul Mujib. Bahwa kehadiran lembaga pendidikan Islam mempunyai latar belakang, yaitu : 1) Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam 2) Usaha penyempurnaan sistem Pesantren ke arah sistem pendidikan yang lebih baik dan lulusannya dan memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum. 3) Sebagai upaya untuk menjembatani antar sistem pendidikan tradisional yang dilaksanakan oleh Pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akulturasi. 3. Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan 1) Zaman Kolonial Belanda dan Kebijakannya Awal mulanya orang-orang Belanda datang ke Indonesia adalah untuk menjalin hubungan perdagangan dimana mereka sambil berdagang mulai sedikit demi sedikit menancapkan pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia. Sehingga lambat laun Belanda memperkuat penetrasinya di Indonesia, Belanda tidak hanya memonopoli perdagangan Indonesia dengan sistem kapitalis. Pemerintah Belanda mulai menjajah Indonesia sejak pada tahun 1614 M, yaitu ketika Jan Pieter Zoon Coert menduduki Jakarta dan sedikit demi sedikit menguasai daerah-daerah. Kehadiran Belanda bukan saja mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia tetapi juga menekan politik kehidupan keagamaan rakyat, membatasi gerak pengamalan aktivitas-aktivitas keagamaan yang, yang dilakukan secara terbuka dilarang ibadah haji dibatasi setiap jamaah haji pulang ke Indonesia diawasi dengan ketat untuk mengantisipasi pengaruhnya yang dapat membangkitkan perlawanan pemerintah Belanda. Pada waktu Belanda berkuasa telah didirikan beraneka macam Sekolah, ada yang bernama Sekolah Dasar, Sekolah kelas, HIS, MLTLO, AMS dan lain-lain sekolah-sekolah tersebut hanya mengajarkan mata pelajaran umum, tidak memberikan mata pelajaran agama sama sekali, hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Sekitar tahun 1905 Belanda mengeluarkan aturan bahwa tidak semua kiyai boleh memberikan pelajaran. Peraturan tersebut besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan Islam. Pada tahun 1865 J.A Vander Chijs adalah inspektur pendidikan pribumi yang pertama dari kolonial Belanda menolak menyesuaikan pendidikan islam yang ada berdasarkan alasan teknis pendidikan karena kebiasaan pribumi sangat jelek sehingga tidak dapat dipakai dalam Sekolah pribumi, jelek yang dimaksud adalah metode membaca teks Arab yang hanya dihapal tanpa pengertian. Pemerintah Belanda mulai menyelenggarakan pendidikan model Barat yang diperuntukkan untuk orang Belanda dan sedikit untuk orang Indonesia yang berada. Sejak itulah tersebar Sekolah Rakyat di desa-desa. Belanda tidak mengakui lulusan tradisional sehingga tidak diterima bekerja di pabrik atau tenaga birokrat. Kedatangan Belanda di satu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi teknologi tersebut bukan dinikmati oleh pribumi, tujuannya hanyalah meningkatkan hasil jajahannya begitu pula dengan pendidikan, mereka telah memperkenalkan sistem dan metodologi baru, namun semua itu dilakukan untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu segala kepentingan penjajah dengan imbalan yang murah sekali dibandingkan dengan harus mendatangkan tenaga dari Barat. 2) Zaman Jepang dan Kebijakannya Setelah Belanda meninggalkan bumi pertiwi pada tanggal 1942 dilanjutkan oleh Jepang. Indonesia kembali dipimpin oleh Kolonial Jepang. Jepang yang mempunyai cita-cita untuk memimpin Asia Timur Raya (ATR) yang direncanakannya sejak tahun 1940, Jepang mulai mengakomodir partai-partai Islam dan menggabungkan dua kekuatan Islam dan Kekuatan Nasionalisme sekuler. Pendidikan di zaman Jepang disebut Hakku ichiu yakni mengajak bangsa Indonesia kerja sama untuk mencapai kemakmuran Asia Timur Raya. Pendidikan di zaman Belanda berbeda dengan pendidikan di zaman Jepang. Di zaman Jepang Sekolah yang paling rendah adalah disebut Sekolah Rakyat (SR) yang diadakan untuk semua lapisan masyarakat, di mana sekolah-sekolah di desa dibiarkan dan Sekolah Rakyat diganti namanya menjadi sekolah pertama, susunan pengajarannya enam tahun. Kedua, sekolah menengah tiga tahun, ketiga Sekolah Menengah Atas (SMA pada zaman Jepang).19 . Sistem pengajaran ini masih dipakai Indonesia sampai sekarang yang merupakan warisan penjajah Jepang. Pendidikan Islam di zaman Jepang mempunyai gerak luas dan bebas bergerak karena Jepang merangkul umat islam dibanding di zaman Belanda pendidikan islam terutama Pesantren dan Madrasah dibatasi ruang geraknya. Pada zaman Belanda Kantor Urusan Agama disebut “Kantoor Voor Islamstiche” yang dipimpin oleh orang-orang orientalis sedang di zaman Jepang di rubah namanya menjadi Kantor Sumubi yang dipimpin oleh ulama Islam seperti KH. Hasyim Asy'ari, sedangkan di daerah-daerah dibentuk Sumuka. Pesantren dan Madrasah, Sekolah yang besar sering dikunjungi dan diberi bantuan oleh pemerintah Jepang, buku-buku pelajaran banyak yang berbahasa asing banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia di pakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, organisasi-organisasi islam banyak tumbuh berkembang dan bebas beraktivitas. Ketika Jepang mulai terperosok dalam ekonominya dan akhirnya menekan dan menindas bangsa Indonesia dengan menjalankan kekerasan . Hasil-hasil kekayaan alam banyak diambil untuk membiayai Perang. Selain dari itu Jepang juga memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan dengan tidak mendiskriminasikan golongan penduduk, keturunan dan agama bagi semua lapisan masyarakat. Pendidikan Islam mendapatkan ruang gerak yang luas dibandingkan di zaman Belanda, Muhammad Yunus mengusulkan kepada kepala Jawatan Pengajaran Jepang untuk memasukkan Pendidikan Islam ke dalam bagian sekolah-sekolah pemerintah mulai dari Sekolah Desa. 3) Problematika Pendidikan Islam (Pesantren, Madrasah) Permasalahan yang pelik yang dihadapi pendidikan Islam, Pesantren, Madrasah yang aktual adalah rendahnya mutu yang dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan. Pendidikan Islam yang survive dan mampu bersaing dan berkembang secara optimal harus mampu menciptakan keunggulan yang kompetitif di era globalisasi. Selain dari itu problem yang dihadapi adalah kurangnya sarana prasarana pendukung kompetensi pengajar (Guru) yang masih terbatas, transportasi dan informasi masih kurang. Apabila pemenuhan kebutuhan tersebut belum menyeluruh ke seluruh Lembaga pendidikan maka pendidikan akan stagnan apalagi Pesantren dan Madrasah yang masih swasta yang ada di desa-desa. Terlebih lagi di berlakukannya Badan Hukum Pendidikan Nasional (BHPN) yang memicu persaingan antara lembaga Pendidikan termasuk pendidikan di Islam Indonesia. Selain dari itu yang lebih menonjol lagi berasal dari kalangan ilmuan Islam itu sendiri dimana ada fenomena dikatomi kelimuan antara lulusan Barat dan lulusan Timur Tengah yang unjungnya memberikan pemahaman yang kurang responsif dan membingungkan bagi masyarakat Islam Indonesia, misalnya lulusan barat dicap sebagai pemikiran liberalis atau lebih mengutamakan metodologi daripada refrensi sedangkan alumni Timur Tengah di kenal dengan Islam yang menutup diri yang lebih mengutamakan refrensi, akhir-akhir ini, inilah yang terjadi di dunia Pendidikan Islam di Indonesia. Jika kedua latar belakang keilmuan tersebut dan menjadi satu maka dunia pendidikan Islam Indonesia kedepan akan Lebih maju dan mampu berkopetitif dengan pendidkan lainnya yang ada, dan apabilah hal tersebut masih berlanjut dan tumbuh subur maka akhirnya bangsa ini semakin sekuler terpuruk dan terbelakang. 4) Pendidikan Islam Pesantren, Madrasah dan Sekolah Hubungannya dengan IPTEK Kemajuan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan transportasi di era globalisasi ini telah memberikan dampak ke dalam setiap segi kehidupan bangsa dan negara, tidak ada seorang pun yang mengelakkan dirinya dari kemajuan tersebut. Pada zaman dahulu pendidikan diperuntukan mencari ilmu dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak bisa menjadi bisa. Pendidikan Islam diharapkan mampu mempersiapkan pendidikan insaniyah yang mampu mengantarkan peserta didik berbekal Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (IE) dan Kecerdasan Spiritual (SQ. Kondisi tersebut dikarenakan masyarakat mulai menyesuaikan diri dengan era globalisasi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana dengan eksistensi pendidikan islam termasuk Pesantren dan Madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Dalam menghadapi arus perkembangan IPTEK, lembaga-lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu mengatasi dan meraihnya supaya tidak terbelakang. Menurut Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, ada lima prinsip yang harus diikuti untuk mencapai penguasaan IPTEK yaitu : 1. Melakukan pendidikan dan latihan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam bidang IPTEK yang relevan dengan pembangunan bangsa. 2. Mengembangkan konsep masyarakat teknologi dan industri serta melakukan usaha serius merealisasikan konsep tersebut. 3. Adanya transfer aplikasi dan pengembangan lebih jauh dari teknologi yang diarahkan pada pemecahan masalah nyata. 4. Kemandirian teknologi tanpa harus bergantung terus di luar negeri 5. Perlu adanya perlindungan teknologi yang dikembangkan dalam negeri sampai bersaing di daerah internasional Dari apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. BJ. Habibie dalam Hasbullah Kapita Selekta Pendidikan Islam dapat disimpulkan bahwa konsep harus direalisasikan dan ditingkatkan dan dipertahankan tanpa ketergantungan oleh negara lain. 6. Ekonomi, Social Politik dan Kontinutasnya Ketika pada masa kesulitan ekonomi yang dihadapi sekita tahu 1950-1960an perubahan Pesantren yang mengarah pada pemberian keterampilan khususnya dibidang pertanian yang tentunya di persiapkan menopan kehidupan Pesantren. Hal itu dapa dilihat Pesantren Pesantren yang berada dipedesaan pada waktu itu. PPs. Tebuireng Gontor, yang mengarahkan santrinya unti cocok tanam seperti bersawah, menanam tembakau dan kegiatan ekonomi lainnya. Selanjutnya kegiatan tersebut terus berkesinambungan yang akhirnya mendirikan suatu koperasi, sebagai tempat penyimpangan dan pengelolaan hasil hasil pertaniaanya di samping berwirusaha lainnya. Dengan melihat perkembanagn politik di Indonesia Pesantren mulai terkontaminasi ini dapat dipahami karena dengan kedudukannya sebagai truste masyarakat santri, dimana para santri mengharapkan bimbingan cultural, khususnya hubungannya dengan islam, yang pada akhirnya memunculkan kelompok kekuatan dalam lingkungan pesantren bahkan duania kanca perpolitikan di Indonesia. Maka pesantren merupakan salah satu tempat lahirnya suatu idiologi politik Indonesia yang berada pada jajaran yang multi cultural sesuai besiknya masing-masing. Dunia Pesantren mewarisi dan memelihara kontinutas tradisi islam yang berkembang dari masa kemasa tidak terbatas pada tertentu, meskipun masish terdapat didalamnya metode pebelajaran yang tradisiaonal pesantren tidak menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini. Lembaga pendidikan Islam di Indonesia meskipun perkembangan dunia yang semakin maju denga ilmu pengetahuan pendikan islam tetap mencirikan diri islam dengan menggabungkan keimuan yang ada. 5) Respon dan Tantangan Pendidikan Islam Terhadap Modernitas Sekitar abad ke 19 tercatat sebagai kemenangan Ilmu Alam, teknologi dan Revolusi Industri yang berujung pada pemetaan pemikiran ilmu-ilmu pengetahuan lainnya mengalami perubahan paradigma yang akhirnya beralih pada pendekatan rasional dan meninggalkan pendekatan lama metafisik-transedental. Fenomena ini dapat dilihat pada wilayah filsafat ilmu sejak pragmatisme, positivisme, relativisme sampai pada materialisme, bukan saja berkembang di dunia Barat tetapi di seluruh belahan dunia dan dapat ditandai munculnya berbagai ilmuwan dengan bidang ilmu yang dikembangkannya. Seperti Psikologi, Sigmun Freud dengan teori Psikoanalisisnya. Max Weber dengan etika kapitalismenya, Auguste Comte dengan Positivisme dan Claud Levi Straus di bidang antropologi dan masih banyak lagi ilmuwan lainnya yang memfokuskan kebangkitan ilmu pengetahuan teknologi pasca revolusi industri ini . Dalam era kebangkitan teknologi ini, situasi dunia menjadi amat transparan, jendela internasional terdapat hampir di setiap rumah , tidak ada lagi sekat-sekat budaya antar bangsa dan membaur melebur saling mempengaruhi yang berujung pada gaya hidup global, dari perkembangan tersebut yang merupakan respon dan tantangan bagi masyarakat pondok pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan pada umumnya. Muncul pertanyaan bagaimanakah bentuk akomodasi, respon dan tantangan modernitas terhadap lembaga pendidikan terhadap perkembangan zaman? Untuk menjawab pertanyaan itu membutuhkan metode dan pendekatan komprehensif di kalangan pesantren. Menurut Zainuddin alternatif yang harus dilakukan oleh Islam adalah terletak pada fondasi-fondasi keilmuan yang kokoh, tidak saja tertuju pada masa lalu masyarakat-masyarakat muslim, tetapi juga kebijakan-kebijakan yang mereka canangkan masa kini serta visi untuk masa depan. Menurut Hasan Hanafi dalam Amin Haedar ada tiga tipologi para pemikir Islam kontemporer dan modernitas yaitu: pertama; pemikir islam konservatif pemikiran ini memiliki pemikiran ideal-holistik yang menolak unsur-unsur dari Barat, Islam dipandang sudah final. Sedangkan Jalaluddin Rahmat menganggap di hadapkan kelompok rasional ilmiah, mereka menganggap cara pandang agama dan kecenderungan mistis tidak berdasarkan praktis dan menganggap agama dan tradisi masa lalu seolah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Pesantren dalam merespons modernitas ada dua hal yang ujungnya untuk mencari relevansinya dengan perkembangan kontemporer. Pertama Pesantren muncul sebagai upaya pencerahan bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Khususnya di Indonesia. Kedua Pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan, maka kurikulum pelajarannya berorientasi terhadap dinamika kekinian perkembangan zaman. Tantangan pendidikan Islam, Pesantren, Madrasah, dan Sekolah Islam banyak dianggap masih tertinggal di banding sekolah-sekolah umum. Pemenuhan atau penciptaan tenaga kerja yang terampil siap pakai khususnya di bidang teknologi managemen yang masih kurang dan orientasinya harus direnovasi sesuai tuntutan zaman. 6) Strategi dan Rekonstruksi Kualitas Pendidikan Islam (Pesantren, Madrasah & Madrasah di Era Globalisasi) Strategi lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernisasi kemajuan era globalisasi adalah : 1. Motivasi kreativitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri di mana nilai-nilai islami menjadi sumber acuannya. 2. Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya. 3. Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan IPTEK dan hubungan akrab dengan para ilmuwan yang memegang otoritas IPTEK dalam bidang masing-masing. 4. Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-sumber yang murni dan kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia. Dari empat ruang lingkup tersebut di atas adalah merupakan sebagian solusi untuk arah pendidikan islam supaya tidak hanyut dan terbawa arus modernitas dari kemajuan IPTEK. Strategi lembaga pendidikan Islam dan sekolah Islam dalam meningkatkan kualitas anak didiknya (santrinya) ada tidak terlepas peranan pimpinan lembaga itu sendiri dan dukungan semua pihak (stakeholders) yang ada. Misalnya Kepala Madrasah, langkah yang harus diambil adalah: 1. Meningkatkan pemberdayaan kinerja Ada beberapa tahapan dalam peningkatan kinerja bagi pemimpin lembaga termasuk pendidikan Islam adalah: a. Merasakan perasaan yang ada dalam hati atau niat b. Menerima perasaan, mempunyai sifat lapang dada. c. Menjaga kesadaran atau mempertahankan keberhasilan d. Menumbuhkan empati. 2. Cara melatih pemberdayaan Dari beberapa hal tersebut perlu diperhatikan untuk meningkatkan pemberdayaan kinerja antara lain : mengenal emosi diri sendiri, mengolah dan mengekspresikan emosi dengan tepat, mengembangkan kemampuan mengolah mengenali emosi orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain dan kecerdasan emosional melalui kegiatan-kegiatan Pesantren dan Madrasah. Bagi lembaga pendidikan islam di era globalisasi ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sebagai berikut : a. Mewujudkan persatuan b. Koordinasi peningkatan sumber daya manusia c. Konsentrasi pemanfaatan dana Seorang pemimpin lembaga pendidikan misalnya kepala Madrasah harus memberikan contoh para bawahannya dan masyarakat sekitarnya untuk hidup sederhana dan menyisihkan sebagian hartanya untuk diinvestasikan dalam berbagai produksi Selain dari peranan kepala sekolah baru juga yang paling berpengaruh dalam peningkatan kualitas pendidikan islam, maka guru harus memiliki : 1) Kepribadian J.S. Farrant (dalam Zakiya Drajat) mengemukakan ada sepuluh kepribadian adalah : Kesehatan Jasmani, tanggung jawab, kreativitas, ketabahan, pengendalian diri,teguh pendirian,kejujuran,ramah, kesetiaan Kepemimpinan. 2) Kompetensi Bagi guru harus memiliki kompetensi baik dasar dan kompetensi lain yang mendukung. Termasuk keahlian yang dimiliki sesuai yang diajarkan kepada santri siswa. 3) Hubungan Pimpinan Kepala Madrasah dengan bawahan staf adalah: Keterbukaan , tanggap, saling ketergantungan, kebebasan dan Saling memenuhi kebutuhan. Seorang pimpinan pesantren/kepala madrasah dituntut untuk mengembangkan kompetensinya dalam dunia pendidikan dan berusaha membenahi dan mengembangkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya dengan berbagai perencanaan yang mantap dan dukungan yang baik dari dalam sekolah, madrasah, pesantren dan sekitarnya, sehingga tercapai tujuan pembangunan nasional. Strategi menurut Noeng Muhadjir adalah merupakan suatu potensi dan sumber daya agar dapat efisien dalam memperoleh hasil sesuai yang direncanakan. Strategi ini bukan saja dipakai oleh para tentara dalam merancang teknik menyerang tetapi sudah mulus cakupannya termasuk lembaga-lembaga pendidikan. H. KESIMPULAN Setelah membahas dan mengkaji berbagai penelitian tentang Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam dan buku-buku sejarahnya, termasuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Karel A. Steenbrink dalam makalah ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu : a. Pendidikan Islam di Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam pada zaman Belanda tertekan tidak mendapatkan ruang gerak yang luas untuk mengembangkan pendidikannya, karena Belanda menganggap sangat tradisional dan kurang baik terutama dalam metode belajar mengajarnya dibanding sekolah Barat yang dibawa oleh Belanda yang lebih mengarah kepada pendidikan modern. Sedangkan di zaman Jepang pendidikan Islam banyak mendapat ruang gerak untuk berkembang berinovasi bahkan mendapatkan bantuan dari pemerintah Jepang. Begitu juga organisasi-organisasi islam untuk mendapat kebebasan mengembangkan aktivitasnya. Dan pada zaman Jepang pendidikan islam mulai dimasukkan ke dalam pengajaran di sekolah-sekolah pemerintah. b. Respon dan tantangan Islam (Pesantren, Madrasah, Sekolah Islam) terhadap modernitas adalah, Islam tidak menutup diri untuk mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi ini dengan persiapan filter yang kuat dan kebal terhadap pengaruhnya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional pendidikan Islam itu sendiri. Lembaga-lembaga tersebut harus berubah dan membenahi diri mengejar keterbelakangannya dengan menguasai teknologi c. Perekonomian pendidkan Islam, Pesantren Madrsah dan Sekolah Islam di Indonesia sejak dahulu ditopan oleh pertanian dan usaha-usaha lain seperti koperas, semuanya itu diperuntuka untuk biaya pengembanganpendidikan disamping bantuan yang masuk baik dari pemerintah maupun demawan lainnya, sehubungan dengan itu pendidikan pesantren juga cikal bakal lahirnya politik-politik local maupun nasional, walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dunia pendidikan Islam masih tetap eksis dan mampu tampil berkompetitif dengan ciri keislaman yang dimilikinya. d. Strategi pendidikan islam Pesantren, Madrasah dan Sekalah Islam dalam meningkatkan kualitasnya di era globalisasi ini adalah memperbaiki manajemen lembaga, metode pengajaran, kurikulum yang dipakai yang sesuai atau relevan dengan perkembangan zaman, peningkatan kualitas guru di dukung oleh sarana prasarana yang memadai dengan melibatkan semua komponen atau stakeholders terkait sehingga melahirkan peserta didik yang mampu mengantar kepada kecerdasan intelektual (IQ, kecerdasan emosional (EQ dan kecerdasan spiritual (SQ, mampu menyesuaikan dan tidak hanyut terbawa arus globalisasi. DAFTAR PUSTAKA Arifin, M, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum. Jakarta, Bumi Aksara, 1993. Bruinesse, Van Martin, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat taradisi-tradisi islam di Indonesia, Bandung, Penerbit Mizan 1995 Departemen Agama RI. Nama dan Data Potensi Pondok Pesantren Seluruh Indonesia, Jakarta, 1984 Daulay,Haidar Putra, Historitas dan Eksistensi pesantren Sekolah dan Madrasah, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001 Dhafier, Zamaksuri. Tradisi Pesantren, Studi pandangan Hidup Kiyai, Jakarta, LP3ES. 1986. Djumhur, Sejarah Pendidikan, Bandung : CV. Ilmu Bintang, 1979. Drajat, Zakiya, Kepribadian Guru, Jakarta, Bulan Bintang. 1982 Hasbullah, Kapita Selekta Fendidikan Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada. 1996 Haedari, Amin, HM, dkk. Masa Depan Pesantren dan tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global, Jakarta: ARD Press. 2004 Indra, Hasbi, Pesantren dan Transformasi Sosial, Jakarta, Paramadina, 2003. Kusmana, Muslim JM, Pradigma baru Pendidikan Islam Restropeksi da proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakatra, PIC UIN, 2008 Mahfud Junaidi, Mansur, Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 2005 Minhaji, Akh, Sejarah Sosial dalam Studi Islam teori, meodologi, dan Inplementasi, Yokyakarta, Sunan Kalijaga Press, 2010 Ritonga, Muhammad, Jurnal Penelitian Agama UIN Sunan Kal jaga Yogyakarta, Vol. XIII No. 3 September-Desember 2004. Steenbrink, Karel A, Pesantren, Madrasah Sekolah, Jakarta, LP3ES. 1986 Mahmud, Yunus, Mah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta, Hidakarya Agung, 1985

MAKALAH


PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
(PESANTREN, MADRASAH DAN SEKOLAH SEJAK ZAMAN KOLONIALISMEI - REFORMASI)








Oleh :
Drs.Sadiran MPdI


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
2010

KATA PENGANTAR

Sejak abad ke 16, Pesantren telah mampu bertahan dan berkembang dengan sikap kemandirian dan tardisinya yang luntur dalam menghadapi perubahan. Bahkan dalam sejarahnya Pesantren, Madrasah telah mampu mengarungi banyak tantangan mulai sejak zaman Kolonial Belanda, Jepang dan sampai sekarang.
Keeksistensian Pesantren dan Madrasah terus berlanjut dari masa ke masa pada era penjajahan sampai era globalisasi, menurut catatan sejarah banyak kiyai yang berasal dari pesantren memimpin perjuangan nasional, melahirkan tokoh-tokoh agama yang pada akhirnya memberikan kontribusinya mengantarkan bangsa Indonesia merdeka bebas dari tekanan dan penindasan kolonialisme Belanda dan Jepang.
Seiring dengan terus berkembangnya berbagai fenomena pendidikan dewasa ini sebagai akibat globalisasi yang kian merambah berbagai dimensi kehidupan manusia, kehadiran Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam diharapkan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan tersebut.
Dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan agama dan kewarganegaraan diajarkan di semua lembaga pendidikan . Hal ini pendidikan agama merupakan salah satu muatan wajib dalam kurikulum pendidikan. Secara kuantitas dan kualitas Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia terus berbenah diri terhadap berbagai persoalan yang cukup sulit dan rumit menghadapi era globalisasi ini, apalagi digulirkannya Link and Match dan interkoneksi antara ilmu agama da umum yang kini menjadi isu sentral Pendidikan Nasional, yang esensinya pendidikan Islam merupakan bagian sub Sistem Pendidikan Nasional.

Kata kunci : Pesantren, Madrasah dan Sekolah.


A. Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas dapat ditarik beberapa terdapat problem yang amat krusial yang harus di carikan solusinya yaitu :
1. Bagaimanakah model lembaga pendidikan Islam di zaman kolonialisme Belanda dan Jepang?
2. Bagaimana respon dan tantangan Pesantren, Madrasah dan pendidikan Islam terhadap modernitas?
3. Bagaimana perkembagan ekonomi, social politik dan kontinutasnya?
4. Bagaimana strategi dan rekonstruksi Pesantren, Madrasah terhadap peningkatan kualitas pendidikan islam di era globalisasi?

A. Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian/ penulisan makalah ini ialah untuk :
1. Mengetahui model pendidikan islam di zaman kolonialisme Belanda dan Jepang.
2. Mengetahui respon dan tantangan Pesantren, Madrasah dan pendidikan Islam terhadap modernitas.
3. Mengetahui perkembangan ekonomi, social politik dan kontinutasnya
4. Mengetahui strategi dan rekonstruksi lembaga pendidikan Islam, Pesantren, Madrasah dalam peningkatan kualitas dan dapat bersaing di era globalisasi.

B. Telaah Pustaka
Karel A. Steenbrink dalam penelitiannya pada 1986 di Indonesia tentang Pesantren, Madrasah dan Sekolah, ia mengatakan bahwa budaya-budaya yang ada pada pesantren terdahulu seperti mengkaji kitab-kitab. Ceramah di lakukan juga kaum Protestan di Eropa. Ekspansi keagamaan Katolik sama dengan ekspansi keagamaan Islam tradisional yang ada di Indonesia.
Karel A. Steenbrink adalah seorang peneliti beragama Katolik ia tertarik memilih judul tentang perkembangan kehidupan Pesantren , karena kehidupan Pesantren mempunyai lingkungan khas, tersendiri dimana Pesantren juga bukan terlihat suatu studi modern mengenai islam di Indonesia. Selain fokus penelitiannya tersebut di atas, dia juga dekat dengan islam (ormas) islam seperti Muhammadiyah, Persis bahkan dia juga sebagai dosen Pasca di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam Penelitiannya ia sempat mengamati beberapa Pondok Pesantren yang ada di Indonesia mulai dari Sumatera sampai Jawa, bahkan dia sempat mondok beberapa bulan di sebuah Pondok yang ternama yaitu Gontor Darus Salam, dimana Pondok ini sudah mulai nampak kehidupan modern di dalamnya.
Sehubungan perjalanannya dari beberapa Pesantren yang ada di Indonesia dia berkesimpulan bahwa: perubahan bentuk dan isi pendidikan Islam di Indonesia tidak terlepas dari tuntutan perkembangan zaman yang dihadapinya. Namun proses perubahan yang dihadapinya tidak begitu muda dan lancar tanpa perselisihan pendapat dari dalam dan keterlibatan kolonial juga menentukan perubahan dari tradisional ke arah lebih modern.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rofangi pada tahun 2001 M tentang “Budaya Santri Urban dalam Menghadapi tantangan Modernitas (Studi Kasus di Pesantren Krapyak Yogyakarta)” yang dimuat dalam jurnal Penelitian Agama Pusat Penelitian UIN Sunan Kalijaga. Dimana ia memfokuskan penelitiannya tentang fenomena budaya santri urban dalam mempertahankan tradisi islam tradisional di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam penelitian ini ia memakai metode penelitian sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan mampu menembus rahasia dari nilai-nilai kehidupan santri urban di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam penelitiannya tersebut dia mengambil beberapa kesimpulan diantaranya dalam menghadapi tuntutan modernitas “santri urban” di Pesantren Krapyak menghadapinya dengan berpegang pada prinsip “al muhafa zhatu `ala al qadimah al shalih wa al akhdzu bi al jadidi al asholeh” (melestarikan nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Fenomena yang ditunjukkan oleh santri urban ini melakukan resistensi budaya sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai lama yang positif dan sekaligus transformasi budaya sebagai langkah akomodatif (culture accomndation) terhadap modernitas.
Dalam konteks lain Hasbi Indra dalam penelitiannya tentang Tantangan Pesantren dan Transformasi Sosial Studi atas pemikiran K.H.Abdullah Syafi'i dalam Bidang Pendidikan Islam, dalam penelitiannya ia mengangkat beberapa masalah pokok diantaranya pemikiran K.H.Abdullah Syafi'i dalam bidang pendidikan tersebut masih relevan untuk diterapkan sekarang? tujuan utama penelitian ini adalah menemukan bentuk pemikiran pendidikan K.H.Abdullah Syafi'i dan praksisnya dalam konteks pesantren yang didirikan di metropolitan Jakarta.
Dari penelitiannya tersebut ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil diantaranya; pemikiran Abdullah Syafi'i tentang pendidikan pesantrennya bercorak khalaf dimana bukan saja menyangkut aspek emosional beragama tetapi juga menyangkut intelektualitas dan keahlian atau skill, seperti yang tampak dan jelas tujuan operasional Pesantren yang dirumuskannya ternyata pemikiran beliau masih relevan dengan zaman sekarang.
Selain itu Martin Van Bruinessen dalam kita kuning membahas hal tentang perkmbangan pondok Pesantren pendidkan Islam Indonesia termasuk kurikulum dan perkembangannya yang banyak di pengaruhi oleh faham-faham tarikat yang dibawa oleh orang-orang Islam dari Arab.
Sementara itu mengenai perkembangan pendidikan Islam kedapan dibahas dalm buku Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia yang intinya mengadakan perubahan peningkata kualitas guru dan lembaga pendidkan disamping itu meningkatkan kapasitas kelembagaan untuk program pengembangan masyarakat, pengkajian Islam antar bidang pengetahuan dan pengarutan jender .

C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini dilakukan dengan melalui pendekatan sejarah yaitu membaca Buku Pesantren Madrasah dan sekolah oleh Stenbrink, Kitab Kuning oleh Martin, Paradigma Baru Pendidikan oleh Kusmana dan Muslimin dan mengkaji data-data atau buku-buku penelitian agama, buku Sejarah Pendidikan Islam yang relevan dan ada kaitannya dengan makalah ini.

D. Ruang Lingkup Pembahasan
Ruang lingkup pembahasan makalah perlu dibatasi sehingga jelas dan tepat sasaran yang dibahas sesuai dan tidak meluas ke berbagai aspek. Penulis memberikan ruang lingkup yang akan dibahas adalah seputar perkembangan lembaga pendidikan islam pesantren, madrasah dan sekolah sejak zaman kolonial Belanda, Jepang sampai sekarang, ekonomi sosial politik dan kontinuitasnya termasuk respon dan tantangan modernitas yang dihadapi lembaga tersebut serta bagaimana peningkatan kualitasnya.

E. Pembahasan
1. Historitas Pesantren
Dalam perjalanan sejarahnya Pesantren telah menjadi obyek para Sarjana Barat yang mempelajari Islam. Pesantren secara etimologi yang berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an, berarti tempat tinggal para santri. Sedangkan Pondok mungkin juga berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel. Sedangkan menurut Karel A.Steenbrink istilah Pesantren bukanlah berasal dari istilah Arab, melainkan datang dari India, begitu juga istilah Pondok, Langgar di Jawa, Surau di Minangkabau dan Rangkang di Aceh bukanlah merupakan istilah Arab tetapi dari istilah yang terdapat di India.
Selain dari itu istilah santri juga dikatakan berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru ngaji dan ada juga yang mengatakan bahwa santri mempunyai arti orang yang tahu buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Jadi pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India sebelum datangnya Islam. Hal ini sangat berpengaruh pada masyarakat Indonesia dan pengajaran dan kurikulum di Pesantren banyak diwarnai ajaran tradisi non Islam.
Tentang kehadiran Pesantren secara jelas di Indonesia pertama kalinya dimana dan siapa pendirinya tidak dapat diperoleh keterangan secara pasti, berdasarkan hasil pendataan oleh Departemen Agama pada tahun 1984-1985 dan yang diperoleh keterangan bahwa Pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 di Pamekasan Madura dengan nama Pesantren Jan Tampes II. Keterangan ini agak meragukan karena tentunya ada Pesantren Jan Tampes I yang lebih tua.
Setelah Islam masuk di Indonesia melalui jalur-jalur perdagangan oleh orang-orang Islam India. Setelah sampai di Indonesia penyebarannya dilakukan oleh para wali yang 9 (sanga) yang akhirnya melahirkan pendidikan individual yang tradisional dan terus berkembang menjadi Pesantren seperti sekarang ini.

2. Historitas Madrasah dan Sekolah
Madrasah adalah salah satu jenis lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia, tetapi sebelum muncul dan berkembangnya Madrasah sudah berkembang pada abad ke 11 khususnya di wilayah Baghdad, sedang di Indonesia nanti pada awal abad ke 20. Madrasah ini didirikan di Padang Panjang oleh Zainuddin Labay pada tanggal 10 Oktober 1915. Di dalam pengajarannya dia menggabungkan antara pelajaran umum dan pelajaran agama.
Melihat perkembangan pesantren yang hanya memberikan pengajaran agama saja. Sedang pemerintah Belanda tidak menginginkan adanya dikotomi ilmu, maka mulailah muncul dari para tokoh-tokoh Islam untuk merubah lembaga pendidikannya dengan menggabungkan antara ilmu agama dan umum. Kelahiran Madrasah di Indonesia di pengaruhi oleh dua faktor yaitu :
Pertama faktor internal yang meliputi ajaran Islam dan kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Kedua faktor eksternal adalah menyangkut masalah kondisi pendidikan modern Kolonial di Indonesia.
Adanya perubahan zaman yang semakin modern yang mengantarkan adanya perpaduan pendidikan Islam yang menumbuhkan semangat membentuk tradisi intelektualitas yang tidak terlepas dari karakter-karakter budaya masing-masing. Islam berkombinasi dengan budaya-budaya yang ada sering disebut Islam sinkretis. Islam sinkretis berkembang di Indonesia kemudian berinteraksi dengan budaya-budaya lain termasuk budaya Barat, Madrasah adalah salah satu hasil dari bentuk perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Barat.
Di lain hal juga diketahui bahwa Madrasah yang pertama didirikan di Indonesia adalah Madrasah Adabiyah di Padang Sumatera Barat oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. dan pada tahun 1915 berubah menjadi (Holand Inland School) Adabiyah : HIS dan merupakan sekolah yang pertama memasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulumnya. Sedangkan menurut Muhaimin Abdul Mujib. Bahwa kehadiran lembaga pendidikan Islam mempunyai latar belakang, yaitu :
1) Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam
2) Usaha penyempurnaan sistem Pesantren ke arah sistem pendidikan yang lebih baik dan lulusannya dan memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum.
3) Sebagai upaya untuk menjembatani antar sistem pendidikan tradisional yang dilaksanakan oleh Pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akulturasi.

3. Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan
1) Zaman Kolonial Belanda dan Kebijakannya
Awal mulanya orang-orang Belanda datang ke Indonesia adalah untuk menjalin hubungan perdagangan dimana mereka sambil berdagang mulai sedikit demi sedikit menancapkan pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia. Sehingga lambat laun Belanda memperkuat penetrasinya di Indonesia, Belanda tidak hanya memonopoli perdagangan Indonesia dengan sistem kapitalis. Pemerintah Belanda mulai menjajah Indonesia sejak pada tahun 1614 M, yaitu ketika Jan Pieter Zoon Coert menduduki Jakarta dan sedikit demi sedikit menguasai daerah-daerah.
Kehadiran Belanda bukan saja mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia tetapi juga menekan politik kehidupan keagamaan rakyat, membatasi gerak pengamalan aktivitas-aktivitas keagamaan yang, yang dilakukan secara terbuka dilarang ibadah haji dibatasi setiap jamaah haji pulang ke Indonesia diawasi dengan ketat untuk mengantisipasi pengaruhnya yang dapat membangkitkan perlawanan pemerintah Belanda.
Pada waktu Belanda berkuasa telah didirikan beraneka macam Sekolah, ada yang bernama Sekolah Dasar, Sekolah kelas, HIS, MLTLO, AMS dan lain-lain sekolah-sekolah tersebut hanya mengajarkan mata pelajaran umum, tidak memberikan mata pelajaran agama sama sekali, hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Sekitar tahun 1905 Belanda mengeluarkan aturan bahwa tidak semua kiyai boleh memberikan pelajaran. Peraturan tersebut besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan Islam. Pada tahun 1865 J.A Vander Chijs adalah inspektur pendidikan pribumi yang pertama dari kolonial Belanda menolak menyesuaikan pendidikan islam yang ada berdasarkan alasan teknis pendidikan karena kebiasaan pribumi sangat jelek sehingga tidak dapat dipakai dalam Sekolah pribumi, jelek yang dimaksud adalah metode membaca teks Arab yang hanya dihapal tanpa pengertian. Pemerintah Belanda mulai menyelenggarakan pendidikan model Barat yang diperuntukkan untuk orang Belanda dan sedikit untuk orang Indonesia yang berada. Sejak itulah tersebar Sekolah Rakyat di desa-desa. Belanda tidak mengakui lulusan tradisional sehingga tidak diterima bekerja di pabrik atau tenaga birokrat.
Kedatangan Belanda di satu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi teknologi tersebut bukan dinikmati oleh pribumi, tujuannya hanyalah meningkatkan hasil jajahannya begitu pula dengan pendidikan, mereka telah memperkenalkan sistem dan metodologi baru, namun semua itu dilakukan untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu segala kepentingan penjajah dengan imbalan yang murah sekali dibandingkan dengan harus mendatangkan tenaga dari Barat.
2) Zaman Jepang dan Kebijakannya
Setelah Belanda meninggalkan bumi pertiwi pada tanggal 1942 dilanjutkan oleh Jepang. Indonesia kembali dipimpin oleh Kolonial Jepang. Jepang yang mempunyai cita-cita untuk memimpin Asia Timur Raya (ATR) yang direncanakannya sejak tahun 1940, Jepang mulai mengakomodir partai-partai Islam dan menggabungkan dua kekuatan Islam dan Kekuatan Nasionalisme sekuler.
Pendidikan di zaman Jepang disebut Hakku ichiu yakni mengajak bangsa Indonesia kerja sama untuk mencapai kemakmuran Asia Timur Raya. Pendidikan di zaman Belanda berbeda dengan pendidikan di zaman Jepang. Di zaman Jepang Sekolah yang paling rendah adalah disebut Sekolah Rakyat (SR) yang diadakan untuk semua lapisan masyarakat, di mana sekolah-sekolah di desa dibiarkan dan Sekolah Rakyat diganti namanya menjadi sekolah pertama, susunan pengajarannya enam tahun. Kedua, sekolah menengah tiga tahun, ketiga Sekolah Menengah Atas (SMA pada zaman Jepang).19 . Sistem pengajaran ini masih dipakai Indonesia sampai sekarang yang merupakan warisan penjajah Jepang.
Pendidikan Islam di zaman Jepang mempunyai gerak luas dan bebas bergerak karena Jepang merangkul umat islam dibanding di zaman Belanda pendidikan islam terutama Pesantren dan Madrasah dibatasi ruang geraknya. Pada zaman Belanda Kantor Urusan Agama disebut “Kantoor Voor Islamstiche” yang dipimpin oleh orang-orang orientalis sedang di zaman Jepang di rubah namanya menjadi Kantor Sumubi yang dipimpin oleh ulama Islam seperti KH. Hasyim Asy'ari, sedangkan di daerah-daerah dibentuk Sumuka.
Pesantren dan Madrasah, Sekolah yang besar sering dikunjungi dan diberi bantuan oleh pemerintah Jepang, buku-buku pelajaran banyak yang berbahasa asing banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia di pakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, organisasi-organisasi islam banyak tumbuh berkembang dan bebas beraktivitas. Ketika Jepang mulai terperosok dalam ekonominya dan akhirnya menekan dan menindas bangsa Indonesia dengan menjalankan kekerasan . Hasil-hasil kekayaan alam banyak diambil untuk membiayai Perang. Selain dari itu Jepang juga memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan dengan tidak mendiskriminasikan golongan penduduk, keturunan dan agama bagi semua lapisan masyarakat. Pendidikan Islam mendapatkan ruang gerak yang luas dibandingkan di zaman Belanda, Muhammad Yunus mengusulkan kepada kepala Jawatan Pengajaran Jepang untuk memasukkan Pendidikan Islam ke dalam bagian sekolah-sekolah pemerintah mulai dari Sekolah Desa.

3) Problematika Pendidikan Islam (Pesantren, Madrasah)
Permasalahan yang pelik yang dihadapi pendidikan Islam, Pesantren, Madrasah yang aktual adalah rendahnya mutu yang dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan. Pendidikan Islam yang survive dan mampu bersaing dan berkembang secara optimal harus mampu menciptakan keunggulan yang kompetitif di era globalisasi. Selain dari itu problem yang dihadapi adalah kurangnya sarana prasarana pendukung kompetensi pengajar (Guru) yang masih terbatas, transportasi dan informasi masih kurang. Apabila pemenuhan kebutuhan tersebut belum menyeluruh ke seluruh Lembaga pendidikan maka pendidikan akan stagnan apalagi Pesantren dan Madrasah yang masih swasta yang ada di desa-desa. Terlebih lagi di berlakukannya Badan Hukum Pendidikan Nasional (BHPN) yang memicu persaingan antara lembaga Pendidikan termasuk pendidikan di Islam Indonesia.
Selain dari itu yang lebih menonjol lagi berasal dari kalangan ilmuan Islam itu sendiri dimana ada fenomena dikatomi kelimuan antara lulusan Barat dan lulusan Timur Tengah yang unjungnya memberikan pemahaman yang kurang responsif dan membingungkan bagi masyarakat Islam Indonesia, misalnya lulusan barat dicap sebagai pemikiran liberalis atau lebih mengutamakan metodologi daripada refrensi sedangkan alumni Timur Tengah di kenal dengan Islam yang menutup diri yang lebih mengutamakan refrensi, akhir-akhir ini, inilah yang terjadi di dunia Pendidikan Islam di Indonesia. Jika kedua latar belakang keilmuan tersebut dan menjadi satu maka dunia pendidikan Islam Indonesia kedepan akan Lebih maju dan mampu berkopetitif dengan pendidkan lainnya yang ada, dan apabilah hal tersebut masih berlanjut dan tumbuh subur maka akhirnya bangsa ini semakin sekuler terpuruk dan terbelakang.

4) Pendidikan Islam Pesantren, Madrasah dan Sekolah Hubungannya dengan IPTEK
Kemajuan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan transportasi di era globalisasi ini telah memberikan dampak ke dalam setiap segi kehidupan bangsa dan negara, tidak ada seorang pun yang mengelakkan dirinya dari kemajuan tersebut.
Pada zaman dahulu pendidikan diperuntukan mencari ilmu dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak bisa menjadi bisa. Pendidikan Islam diharapkan mampu mempersiapkan pendidikan insaniyah yang mampu mengantarkan peserta didik berbekal Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (IE) dan Kecerdasan Spiritual (SQ. Kondisi tersebut dikarenakan masyarakat mulai menyesuaikan diri dengan era globalisasi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana dengan eksistensi pendidikan islam termasuk Pesantren dan Madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Dalam menghadapi arus perkembangan IPTEK, lembaga-lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu mengatasi dan meraihnya supaya tidak terbelakang. Menurut Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, ada lima prinsip yang harus diikuti untuk mencapai penguasaan IPTEK yaitu :
1. Melakukan pendidikan dan latihan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam bidang IPTEK yang relevan dengan pembangunan bangsa.
2. Mengembangkan konsep masyarakat teknologi dan industri serta melakukan usaha serius merealisasikan konsep tersebut.
3. Adanya transfer aplikasi dan pengembangan lebih jauh dari teknologi yang diarahkan pada pemecahan masalah nyata.
4. Kemandirian teknologi tanpa harus bergantung terus di luar negeri
5. Perlu adanya perlindungan teknologi yang dikembangkan dalam negeri sampai bersaing di daerah internasional
Dari apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. BJ. Habibie dalam Hasbullah Kapita Selekta Pendidikan Islam dapat disimpulkan bahwa konsep harus direalisasikan dan ditingkatkan dan dipertahankan tanpa ketergantungan oleh negara lain.

6. Ekonomi, Social Politik dan Kontinutasnya
Ketika pada masa kesulitan ekonomi yang dihadapi sekita tahu 1950-1960an perubahan Pesantren yang mengarah pada pemberian keterampilan khususnya dibidang pertanian yang tentunya di persiapkan menopan kehidupan Pesantren. Hal itu dapa dilihat Pesantren Pesantren yang berada dipedesaan pada waktu itu. PPs. Tebuireng Gontor, yang mengarahkan santrinya unti cocok tanam seperti bersawah, menanam tembakau dan kegiatan ekonomi lainnya. Selanjutnya kegiatan tersebut terus berkesinambungan yang akhirnya mendirikan suatu koperasi, sebagai tempat penyimpangan dan pengelolaan hasil hasil pertaniaanya di samping berwirusaha lainnya.
Dengan melihat perkembanagn politik di Indonesia Pesantren mulai terkontaminasi ini dapat dipahami karena dengan kedudukannya sebagai truste masyarakat santri, dimana para santri mengharapkan bimbingan cultural, khususnya hubungannya dengan islam, yang pada akhirnya memunculkan kelompok kekuatan dalam lingkungan pesantren bahkan duania kanca perpolitikan di Indonesia. Maka pesantren merupakan salah satu tempat lahirnya suatu idiologi politik Indonesia yang berada pada jajaran yang multi cultural sesuai besiknya masing-masing.
Dunia Pesantren mewarisi dan memelihara kontinutas tradisi islam yang berkembang dari masa kemasa tidak terbatas pada tertentu, meskipun masish terdapat didalamnya metode pebelajaran yang tradisiaonal pesantren tidak menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini.
Lembaga pendidikan Islam di Indonesia meskipun perkembangan dunia yang semakin maju denga ilmu pengetahuan pendikan islam tetap mencirikan diri islam dengan menggabungkan keimuan yang ada.

5) Respon dan Tantangan Pendidikan Islam Terhadap Modernitas
Sekitar abad ke 19 tercatat sebagai kemenangan Ilmu Alam, teknologi dan Revolusi Industri yang berujung pada pemetaan pemikiran ilmu-ilmu pengetahuan lainnya mengalami perubahan paradigma yang akhirnya beralih pada pendekatan rasional dan meninggalkan pendekatan lama metafisik-transedental. Fenomena ini dapat dilihat pada wilayah filsafat ilmu sejak pragmatisme, positivisme, relativisme sampai pada materialisme, bukan saja berkembang di dunia Barat tetapi di seluruh belahan dunia dan dapat ditandai munculnya berbagai ilmuwan dengan bidang ilmu yang dikembangkannya. Seperti Psikologi, Sigmun Freud dengan teori Psikoanalisisnya. Max Weber dengan etika kapitalismenya, Auguste Comte dengan Positivisme dan Claud Levi Straus di bidang antropologi dan masih banyak lagi ilmuwan lainnya yang memfokuskan kebangkitan ilmu pengetahuan teknologi pasca revolusi industri ini . Dalam era kebangkitan teknologi ini, situasi dunia menjadi amat transparan, jendela internasional terdapat hampir di setiap rumah , tidak ada lagi sekat-sekat budaya antar bangsa dan membaur melebur saling mempengaruhi yang berujung pada gaya hidup global, dari perkembangan tersebut yang merupakan respon dan tantangan bagi masyarakat pondok pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan pada umumnya. Muncul pertanyaan bagaimanakah bentuk akomodasi, respon dan tantangan modernitas terhadap lembaga pendidikan terhadap perkembangan zaman?
Untuk menjawab pertanyaan itu membutuhkan metode dan pendekatan komprehensif di kalangan pesantren. Menurut Zainuddin alternatif yang harus dilakukan oleh Islam adalah terletak pada fondasi-fondasi keilmuan yang kokoh, tidak saja tertuju pada masa lalu masyarakat-masyarakat muslim, tetapi juga kebijakan-kebijakan yang mereka canangkan masa kini serta visi untuk masa depan.
Menurut Hasan Hanafi dalam Amin Haedar ada tiga tipologi para pemikir Islam kontemporer dan modernitas yaitu: pertama; pemikir islam konservatif pemikiran ini memiliki pemikiran ideal-holistik yang menolak unsur-unsur dari Barat, Islam dipandang sudah final. Sedangkan Jalaluddin Rahmat menganggap di hadapkan kelompok rasional ilmiah, mereka menganggap cara pandang agama dan kecenderungan mistis tidak berdasarkan praktis dan menganggap agama dan tradisi masa lalu seolah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman.
Pesantren dalam merespons modernitas ada dua hal yang ujungnya untuk mencari relevansinya dengan perkembangan kontemporer. Pertama Pesantren muncul sebagai upaya pencerahan bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Khususnya di Indonesia. Kedua Pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan, maka kurikulum pelajarannya berorientasi terhadap dinamika kekinian perkembangan zaman.
Tantangan pendidikan Islam, Pesantren, Madrasah, dan Sekolah Islam banyak dianggap masih tertinggal di banding sekolah-sekolah umum. Pemenuhan atau penciptaan tenaga kerja yang terampil siap pakai khususnya di bidang teknologi managemen yang masih kurang dan orientasinya harus direnovasi sesuai tuntutan zaman.

6) Strategi dan Rekonstruksi Kualitas Pendidikan Islam (Pesantren, Madrasah & Madrasah di Era Globalisasi)
Strategi lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernisasi kemajuan era globalisasi adalah :
1. Motivasi kreativitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri di mana nilai-nilai islami menjadi sumber acuannya.
2. Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya.
3. Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan IPTEK dan hubungan akrab dengan para ilmuwan yang memegang otoritas IPTEK dalam bidang masing-masing.
4. Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-sumber yang murni dan kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.
Dari empat ruang lingkup tersebut di atas adalah merupakan sebagian solusi untuk arah pendidikan islam supaya tidak hanyut dan terbawa arus modernitas dari kemajuan IPTEK.
Strategi lembaga pendidikan Islam dan sekolah Islam dalam meningkatkan kualitas anak didiknya (santrinya) ada tidak terlepas peranan pimpinan lembaga itu sendiri dan dukungan semua pihak (stakeholders) yang ada. Misalnya Kepala Madrasah, langkah yang harus diambil adalah:
1. Meningkatkan pemberdayaan kinerja
Ada beberapa tahapan dalam peningkatan kinerja bagi pemimpin lembaga termasuk pendidikan Islam adalah:
a. Merasakan perasaan yang ada dalam hati atau niat
b. Menerima perasaan, mempunyai sifat lapang dada.
c. Menjaga kesadaran atau mempertahankan keberhasilan
d. Menumbuhkan empati.
2. Cara melatih pemberdayaan
Dari beberapa hal tersebut perlu diperhatikan untuk meningkatkan pemberdayaan kinerja antara lain : mengenal emosi diri sendiri, mengolah dan mengekspresikan emosi dengan tepat, mengembangkan kemampuan mengolah mengenali emosi orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain dan kecerdasan emosional melalui kegiatan-kegiatan Pesantren dan Madrasah. Bagi lembaga pendidikan islam di era globalisasi ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sebagai berikut :
a. Mewujudkan persatuan
b. Koordinasi peningkatan sumber daya manusia
c. Konsentrasi pemanfaatan dana


Seorang pemimpin lembaga pendidikan misalnya kepala Madrasah harus memberikan contoh para bawahannya dan masyarakat sekitarnya untuk hidup sederhana dan menyisihkan sebagian hartanya untuk diinvestasikan dalam berbagai produksi
Selain dari peranan kepala sekolah baru juga yang paling berpengaruh dalam peningkatan kualitas pendidikan islam, maka guru harus memiliki :
1) Kepribadian
J.S. Farrant (dalam Zakiya Drajat) mengemukakan ada sepuluh kepribadian adalah :
Kesehatan Jasmani, tanggung jawab, kreativitas, ketabahan, pengendalian diri,teguh pendirian,kejujuran,ramah, kesetiaan Kepemimpinan.
2) Kompetensi
Bagi guru harus memiliki kompetensi baik dasar dan kompetensi lain yang mendukung. Termasuk keahlian yang dimiliki sesuai yang diajarkan kepada santri siswa.
3) Hubungan Pimpinan Kepala Madrasah dengan bawahan staf adalah: Keterbukaan , tanggap, saling ketergantungan, kebebasan dan Saling memenuhi kebutuhan.
Seorang pimpinan pesantren/kepala madrasah dituntut untuk mengembangkan kompetensinya dalam dunia pendidikan dan berusaha membenahi dan mengembangkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya dengan berbagai perencanaan yang mantap dan dukungan yang baik dari dalam sekolah, madrasah, pesantren dan sekitarnya, sehingga tercapai tujuan pembangunan nasional.
Strategi menurut Noeng Muhadjir adalah merupakan suatu potensi dan sumber daya agar dapat efisien dalam memperoleh hasil sesuai yang direncanakan. Strategi ini bukan saja dipakai oleh para tentara dalam merancang teknik menyerang tetapi sudah mulus cakupannya termasuk lembaga-lembaga pendidikan.

H. KESIMPULAN
Setelah membahas dan mengkaji berbagai penelitian tentang Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam dan buku-buku sejarahnya, termasuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Karel A. Steenbrink dalam makalah ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
a. Pendidikan Islam di Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam pada zaman Belanda tertekan tidak mendapatkan ruang gerak yang luas untuk mengembangkan pendidikannya, karena Belanda menganggap sangat tradisional dan kurang baik terutama dalam metode belajar mengajarnya dibanding sekolah Barat yang dibawa oleh Belanda yang lebih mengarah kepada pendidikan modern. Sedangkan di zaman Jepang pendidikan Islam banyak mendapat ruang gerak untuk berkembang berinovasi bahkan mendapatkan bantuan dari pemerintah Jepang. Begitu juga organisasi-organisasi islam untuk mendapat kebebasan mengembangkan aktivitasnya. Dan pada zaman Jepang pendidikan islam mulai dimasukkan ke dalam pengajaran di sekolah-sekolah pemerintah.
b. Respon dan tantangan Islam (Pesantren, Madrasah, Sekolah Islam) terhadap modernitas adalah, Islam tidak menutup diri untuk mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi ini dengan persiapan filter yang kuat dan kebal terhadap pengaruhnya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional pendidikan Islam itu sendiri. Lembaga-lembaga tersebut harus berubah dan membenahi diri mengejar keterbelakangannya dengan menguasai teknologi
c. Perekonomian pendidkan Islam, Pesantren Madrsah dan Sekolah Islam di Indonesia sejak dahulu ditopan oleh pertanian dan usaha-usaha lain seperti koperas, semuanya itu diperuntuka untuk biaya pengembanganpendidikan disamping bantuan yang masuk baik dari pemerintah maupun demawan lainnya, sehubungan dengan itu pendidikan pesantren juga cikal bakal lahirnya politik-politik local maupun nasional, walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dunia pendidikan Islam masih tetap eksis dan mampu tampil berkompetitif dengan ciri keislaman yang dimilikinya.
d. Strategi pendidikan islam Pesantren, Madrasah dan Sekalah Islam dalam meningkatkan kualitasnya di era globalisasi ini adalah memperbaiki manajemen lembaga, metode pengajaran, kurikulum yang dipakai yang sesuai atau relevan dengan perkembangan zaman, peningkatan kualitas guru di dukung oleh sarana prasarana yang memadai dengan melibatkan semua komponen atau stakeholders terkait sehingga melahirkan peserta didik yang mampu mengantar kepada kecerdasan intelektual (IQ, kecerdasan emosional (EQ dan kecerdasan spiritual (SQ, mampu menyesuaikan dan tidak hanyut terbawa arus globalisasi.


















DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum. Jakarta, Bumi Aksara, 1993.

Bruinesse, Van Martin, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat taradisi-tradisi islam di Indonesia, Bandung, Penerbit Mizan 1995

Departemen Agama RI. Nama dan Data Potensi Pondok Pesantren Seluruh Indonesia, Jakarta, 1984

Daulay,Haidar Putra, Historitas dan Eksistensi pesantren Sekolah dan Madrasah, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001

Dhafier, Zamaksuri. Tradisi Pesantren, Studi pandangan Hidup Kiyai, Jakarta, LP3ES. 1986.

Djumhur, Sejarah Pendidikan, Bandung : CV. Ilmu Bintang, 1979.

Drajat, Zakiya, Kepribadian Guru, Jakarta, Bulan Bintang. 1982

Hasbullah, Kapita Selekta Fendidikan Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada. 1996

Haedari, Amin, HM, dkk. Masa Depan Pesantren dan tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global, Jakarta: ARD Press. 2004

Indra, Hasbi, Pesantren dan Transformasi Sosial, Jakarta, Paramadina, 2003.

Kusmana, Muslim JM, Pradigma baru Pendidikan Islam Restropeksi da proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakatra, PIC UIN, 2008

Mahfud Junaidi, Mansur, Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 2005

Minhaji, Akh, Sejarah Sosial dalam Studi Islam teori, meodologi, dan Inplementasi, Yokyakarta, Sunan Kalijaga Press, 2010

Ritonga, Muhammad, Jurnal Penelitian Agama UIN Sunan Kal jaga Yogyakarta, Vol. XIII No. 3 September-Desember 2004.

Steenbrink, Karel A, Pesantren, Madrasah Sekolah, Jakarta, LP3ES. 1986

Mahmud, Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta, Hidakarya Agung, 1985

No comments:

Post a Comment